Kekerasan Muslim Uighur Fakta atau Propaganda
DEPOK | ISTANARAKYAT.NET – Kita tahu beberapa bulan setelah ini ada pengadilan, mahkamah rakyat, tapi bukan resmi dari org internasional. Inggris menggelar pengadilan menghadirkan orang Uighur untuk memberikan testimoni apa yang terjadi disana.
China memberikan rilis tentang pengadilan sandiwara. Acara ini ingin menambahkan perspektif yang lain, IMCC ini awal concern pada apa yang terjadi di masyarakat, yang dikenal sebagai teroris atau ekstrimisme kekerasan, dalam seminar di Hotel Margo Depok, Jawa Barat, Sabtu (3/7/2021) siang.
Ini juga perdebatan, teroris beragama atau tidak. Mereka dengan percaya diri melegitimasi aksi-aksinya, kita juga merangkum fakta menarik, ada potensi ancaman yg berhasil digagalkan oleh aparat, berita-berita tentang muslim Uighur ini kemudian menyasar kelompok yang menyasar pemerintahan China.
Menurut Sekretaris Nahdatul Ulama KH Imam Pituduh, kalau bicara tentang Tiongkok selalu menarik. China sejak lama menjadi pusat peradaban, bahkan Rasul mengatakan mencari ilmu sampai ke negeri China, China sebagai peradaban besar selalu menarik untuk didiskusikan.

KH Imam Pituduh menambahkan, apa yang ada di muslim Uighur tidak serta merta dianggap penindasan. Saya berkunjung ke pedesaan dan hidupnya makmur. Padahal disana saya berinteraksi secara bebas disana. Sholat Jumat juga biasa aja, tidak seperti diberitakan media. Kalau di uang 100 yuan, ada tulisan bahasa Uigur, terdapat tulisan pegon. Disini saya melihat, pemerintah Tiongkok udah respek dan mengakui bangsa Uighur, dan emmang bahasanya tidak seperti bahasa Tiongkok disana.
Sebagian besar UIghur lebih senang menggunakan bahasa Uighur. Kenapa ada pendidikan vokasi disana, maka dia harus dididik dan dilatih supaya nasionalismenya tinggi. Pertama pendidikan bahasa mandarin. Mereka juga dilatih seni dan budaya supaya tidak menjadi radikal.
Mereka eksklusif jadi mudah disisipi ajaran-ajaran radikal, selain itu saya menemukan pada tahun 1990 an sampai tahun 2000 an masih banyak terjadi aksi terorisme yang berkembang di China. Ada bom diri dan pembunuhan terhadap pemimpin agama. Virus radikalisme gak cuma di Indonesia, di Tiongkok juga ada karena diracunin oleh tetangga negara yang radikal. Tindakan pencegahan mereka juga lebih bagus dari kita secara edukatif. Secara kultur banyak mengadaptasi kebudayaan negara lain. Diabding konsentrasi lebih ke vokasi, kedua kesenian.
Faktaya yang harus kita lihat, sudah dilakukan pengenalan pengakuan dari pemerintah Tiongkok. Kalau hari ini Uighur dilindungi dengan cara melatih mereka, dalam rangka memberantas radikalisme.
Menurut Ketua Panitia Robi Sugara, mengatakan kekerasan muslim Uighur, ini lebih banyak propaganda dibanding fakta. Jadi kalau ada berita kekerasan terlalu berlebihan, terlalu baik juga terlalu berlebihan. Tergantung konstruksi dasar berpikir.(end)
![]()
