Pembela Kaum Nelayan tak Acuh, Nelayan Belawan Tetap Saja Miskin

2
Spread the love

SUMATERA UTARA | ISTANARAKYAT.NET – Mayoritas nelayan di pesisir Belawan tetap saja miskin. Mata pencaharian mereka terkikis dengan rusaknya ekosistem alam disebabkan limbah industri serta perambahan hutan. Sementara yang nota benenya sebagai pembela nasib nelayan sama sekali tak acuh, Minggu (8/11/2020).

Miskin dan sengsaranya kehidupan nelayan di pesisir Belawan adalah permasalahan kompleks yang harus dibenahi. Namun hingga kini keadaan tersebut tak pernah berubah dan selalu diabaikan.

Contoh kecil yang menjadi rintangan para lembaga serta aktifis pembela kaum nelayan adalah persoalan limbah di hilir laut Belawan. Limbah industri yang menggangu dan mencemari lingkungan di kawasan perairan Belawan terlihat seakan menari-nari diatas penderitaan orang banyak.

Bukan itu saja, lahan pencaharian nelayan kecil hilang akibat banyak kawasan paluh yang ditumbuhi hutan mangrove dibabat dan ditutup pengusaha dan dijadikan kebun sawit.

Anehnya tak satu pun yang notabenenya pembela kaum nelayan berani memberangus pembuat kesengsaraan nelayan itu.

Namun kalau di atas podium dan di depan pejabat “pembela kaum nelayan” selalu berkoar-koar yang mengatakan dialah paling berkorban untuk membela kehidupan nelayan.

Ditempat terpisah, aktifis nelayan tradisional Rafai (45), penutupan paluh di kawasan hutan Mangrove mendekat laut Belawan telah lama berlangsung. Bahkan saat ini kegiatan itu semakin menjadi-jadi sehingga banyak hutan mangrove yang telah dijadikan perkebunan sawit.

“Dengan ditutupnya banyak hutan mangrove, saya tidak yakin kalau nelayan tradisional hidupnya bakal sejahtera,” kata Rafai saat menerima bantuan konversi BBM ke BBG kepada nelayan tradisional oleh Dirjen Migas, Komisi VII DPR RI, PT Pertamina di Kec. Hamparan Perak.

Di tempat lain, menapaki Titi Gantung Batam Ujung Tanjung, Lingkungan 15, Kampung Batam (Bagan Tambahan) Belawan. Terlihat cahaya mentari beranjak tinggi mengarah ke barat. Sore itu sesekali pandangan mata terhalang oleh hangatnya sinar matahari.

Bila melirik ke bawah dari atas Titi Gantung Batam, terdengar sayup-sayup alir mengalir diterpa angin ke laut lepas Belawan. Dan jejeran rapi perahu nelayan tertambat di depan rumah yang kesemuanya berdinding kayu.

Senja hari itu terlihat kesibukan para nelayan yang pulang dari melaut. Dan ada pula nelayan yang sedang merajut jala rusak. Serta sebahagian lagi nelayan berkemas-kemas untuk berangkat pagi dini hari.

Penduduk Ujung Tanjung Kampung Batam Belawan mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan pinggiran.

Keseluruhan warga Kampung Batam Belawan masih memegang teguh adat istiadat dan aturan peninggalan para tetua disana. Sikap saling menghormati diperlihatkan antara yang tua dengan anak muda dan sebaliknya.

Setiap harinya suasana guyub menghiasi pergaulan warga di Kampung Batam. Acara takziah dan perwiritan saat kemalangan pun merupakan acara yang sakral buat masyarakat Kampung Batam.

Menurut warga Ujung Tanjung Kampung Batam, May (27), hasil keseharian melaut suaminya Iyan hanya pas-pasan saja. Bahkan terkadang pernah tak ada membawa hasil sama sekali.

“Bang sekarang ini suamiku membawa uang hanya Rp 40 ribu ke rumah. Terkadang kami harus meminjam tetangga untuk beli susu si kecil,” kata May saat berbincang dengan awak media.

Seorang tokoh nelayan yang dituakan di Belawan Khairudin Nasution alias Kadin, terpancar wajahnya yang begitu keras dengan sorot matanya tajam, mengatakan kalau dirinya sedari dahulu tegar dengan keadaan.

“Masyarakat di Kampung Batam ini haruslah tegar dalam segala hal. Selalu tebar kebaikan walau sesulit apapun. Itulah pesan tetua kita disini,” ucap Kadin. (ts/to)

Loading

istanarakyat
Author: istanarakyat

2 thoughts on “Pembela Kaum Nelayan tak Acuh, Nelayan Belawan Tetap Saja Miskin”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!