Tak Hanya Siap Menolong, Relawan Juga Harus Sehat: LMI Rescue Ikuti Program Kesehatan Kebencanaan Internasional
SURABAYA | jelajahlintasindonesia.com – Menjadi relawan penanggulangan bencana bukan hanya soal keberanian dan kesiapan turun ke lapangan. Kondisi fisik dan mental juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan agar relawan mampu menjalankan misi kemanusiaan secara aman dan berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam International Collaborative Programme: Health Assessment & Policy Support Programme for Disaster Response Volunteers yang digelar di Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Provinsi Jawa Timur, 19–20 Agustus 2026.

LMI Rescue turut ambil bagian dalam program kolaboratif internasional tersebut bersama sekitar 100 relawan kebencanaan dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
Program ini merupakan kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Chiba Institute of Science (CIS) Jepang, Universitas Budi Luhur, serta BPBD Provinsi Jawa Timur.
Rangkaian kegiatan pada Rabu, 19 Agustus 2026, diawali dengan seremoni pembukaan, sosialisasi pengisian instrumen pemeriksaan kesehatan, pendataan peserta, hingga kuliah umum.
Selanjutnya, pada Kamis, 20 Agustus 2026, para peserta mengikuti pemeriksaan kesehatan fisik dan mental untuk Batch 1. Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh tim dari Chiba Institute of Science Jepang.

Hadir dalam kegiatan tersebut Prof. Ryo Tanaka dari Chiba Institute of Science Jepang, Prof. Ma’mun Nuryana selaku peneliti utama BRIN, serta perwakilan Universitas Budi Luhur.
Dari BPBD Provinsi Jawa Timur hadir Sekretaris BPBD Jatim Andhika N. Sudigda yang mewakili Kalaksa BPBD Jatim, bersama Kabid PK BPBD Jatim, Deni Kiki Melia Tamara.
Lilik Handayani yang mewakili Relawan Nusantara Penanggulangan Bencana (RNPB) sebagai mitra SRPB Jawa Timur mengatakan bahwa keikutsertaan para relawan menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memahami pentingnya kesehatan dalam menjalankan tugas kebencanaan.
“Kami bersama sekitar 100 relawan kebencanaan se-Jawa Timur mengikuti seluruh rangkaian program sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas dan ketahanan relawan dalam menjalankan tugas kemanusiaan nantinya,” ujarnya.
Menurut Lilik, pemeriksaan kesehatan fisik dan mental menjadi bagian penting karena relawan kerap menghadapi situasi penuh tekanan ketika berada di lokasi bencana.
Susanto, Humanitarian Program LAZNAS LMI, menegaskan bahwa keselamatan relawan harus menjadi perhatian dalam setiap operasi kemanusiaan.
“Relawan merupakan garda terdepan dalam setiap penanganan bencana. Karena itu, kesehatan fisik dan mental relawan harus menjadi perhatian,” jelasnya.
Ia mengatakan, relawan dituntut memiliki kesiapan untuk membantu masyarakat, namun kesiapan tersebut harus dibarengi kondisi kesehatan yang memadai.

“Relawan tidak hanya dituntut siap membantu masyarakat, tetapi juga harus memiliki kondisi kesehatan yang baik agar mampu menjalankan tugas secara aman dan berkelanjutan,” tambah Susanto.
Program tersebut diharapkan dapat menghasilkan manfaat jangka panjang bagi dunia kebencanaan di Jawa Timur. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan bukan sekadar untuk mengetahui kondisi para relawan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi bahan dalam membangun sistem dukungan kesehatan yang lebih terarah.
Selain itu, program ini diharapkan dapat menjadi pijakan dalam pengembangan kebijakan, pendataan relawan, serta sistem perlindungan dan dukungan kesehatan bagi para pegiat kebencanaan.
Bagi LMI Rescue, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen memperkuat kapasitas relawan sekaligus membangun kolaborasi lintas lembaga.
Dengan adanya perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental relawan, diharapkan para pegiat kemanusiaan dapat menjalankan tugas dengan lebih siap, aman, profesional, dan berkelanjutan ketika menghadapi berbagai kondisi kedaruratan maupun bencana.
(snt)
![]()
